Minggu, 05 September 2010

Tips Komunikasi Pemasaran Bagi Institusi Pendidikan


Mengelola institusi pendidikan, seperti sekolah ataupun kursus tidaklah semudah yang dikira banyak orang. Seringkali tuntutan masyarakat terhadap institusi ini melebihi kemampuan pihak pengelola. Namun adakalanya problema timbul karena kurangnya informasi masyarakat terhadap sekolah/lembaga pendidikan yang bersangkutan. Sehingga muncullah opini negatif publik terhadap sekolah tersebut, yang tidak didasarkan pada kenyataan yang ada.Bila hal ini terjadi tentunya akan sangat merugikan sekolah tersebut. Di era informasi seperti ini sesungguhnya semakin terbuka kesempatan bagi sekolah untuk berkomunikasi kepada target audience melalui berbagai cara, mulai dari flyers, website, hingga iklan. Di era ini persaingan antara institusi pendidikan juga semakin meningkat pula.

Dengan demikian, sudah semestinya kini para pengurus Yayasan yang mengelola institusi pendidikan juga mulai menyadari betapa pentingnya peran komunikasi pemasaran dalam membantu pekerjaan mereka sehari-sehari, bukan hanya saat ada masalah, tetapi sebagai suatu aktivitas yang terus menerus mesti dilakukan agar publik atau target market selalu terupdate dengan segala informasi positif terhadap institusi pendidikan yang bersangkutan.

Ada tiga hal mendasar yang harus dilakukan oleh pihak pengelola institusi pendidikan, agar program yang dibuatnya dapat berjalan dengan baik yaitu :

1. Mengetahui secara pasti apa yang sesungguhnya diinginkan oleh target market yang bersangkutan, baik murid ataupun orang tua murid. Hal ini dapat dilakukan melalui suatu riset (research) daalam bentuk tatap muka atau penyebaran angket.Adakalanya rapat terbuka tak memiliki masukan yang berarti, mengingat budaya bangsa kita yang masih menganut ewuh pakewuh. Dalam banyak kasus, banyak orang tua murid yang tak puas lebih senang membicarakan keluhannya diluar forum resmi dari pada menyampaikan keluh kesah melalui forum rapat. Hal ini tentunya akan memiliki dampak buruk, mengingat komunikasi getuk tular negatif, secara pelan pelan dapat menimbulkan citra negatif (baca artikel kami mengenai komunikasi getuk tular pada bulan Juli 2010). Untuk mengatasi kondisi seperti ini, pihak sekolah dapat melakukan penyebaran angket, baik dengan identitas ataupun tanpa identitas. Sehingga individu individu yang tak nyaman dalam berkomunikasi langsung dapat tetap menyampaikan masukannya melalui mekanisme tertulis.
Intinya pihak pengeloal perlu terus membina komunikasi dua arah yang berkesinambungan dengan konsumennya dalam hal ini adalah orang tua murid.

2. Melakukan penggodokan dan konsolidasi dari hasil masukan pada point 1, agar pihak sekolah setidaknya dapat mengakomodasi apa yang diinginkan oleh target market tersebut. Dalam istilah pemasaran sering disebut sebagai suatu product development process. Sebagus apapun produk kalau ternyata tak dibutuhkan dan dianggap tak dapat memenuhi needs and wants konsumennya akan gagal. Untuk itu upayakan agar produk yang akan dijalankan nantinya akan dapat memenuhi kebutuhan target market.Proses penggodokan ini tentunya juga melibatkan pakar pendidikan dan kurikulum, sehingga nantinya program yang diluncurkan selain unggul juga dapat memenuhi kebutuhan konsumen.

3. Luncurkan program tersebut melalui komunikasi kepada target market, kemukakan benefit apa yang akan diperoleh dengan adanya program tersebut. Sehingga target market tak ragu lagi untuk menyekolahkan anak anaknya disekolah tersebut.Sekolah yang memiliki program unggulan apabila tak dikomunikasikan dengan baik dan profesional akan terlihat biasa biasa saja, namun ada kalanya sekolah yang biasa biasa saja namun mampu menarik minat banyak orang tua dan siswa karena kemampuan mengemas komunikasi secara profesional. Dalam berkomunikasi juga hindarkan kesan yang terlalu bombastis dan berlebihan, karena hal ini nantinya akan dapat menjadi boomerang apabila pelayanan yang diberikan sekolah tak memadai...tak sesuai dengan iklan atau brosur yang pernah diterbitkan. Banyak sekolah yang menjual status bertaraf International dan program Bi-lingual tetapi ternyata dalam pelaksanaannya jauh dari kenyataan.

Demikian tips dasar pengelolaan komunikasi bagi institusi pendidikan. Apabila dijalankan setidaknya akan dapat meminimalkan konflik dengan pihak orang tua murid. Nantikan artikel kami selanjutnya yang akan membahas berbagai hal mengenai pemasaran bagi institusi pendidikan.